Jumat, 16 November 2012
No gains without pains.. Agree ??
Aku nyaris kehilangan semangatku selama 3 semester di Fakultas kedokteran Undip ketika aku melihat deret deret nilai tak membuatku puas memandangnya. Kritikan masa kecilku yang melihat nilai B dan C di KHS Oomku yang notabenenya adalah anak pintar kubahas sengit di otakku dan berkata, kalau itu aku pasti sudah kuisi henya dengan 1 huruf dari ke 5 huruf yang mungkin mengisi lembar nilai KHS, dan itu pasti A. Namun ternyata memperoleh nilai yang gemilang bukanlah hal yang mudah, semudah memikirkannya. Mungkin karena sejak dulu aku terbiasa menduduki peringkat pertama di kelas membuat aku berfikir kalau aku mungkin meraih itu semua dengan gampang, tak ingat bahwa dari masa SMA dulu pun aku sudah diingatkan melalui nilai UNku yang kalang kabut. Nilai yang kuharapkan bertabur angka 9 yang menggantung - gantung dan angka 10 malah berulah menjadi 2 butir telur yang disusun vertikal. Kalaulah bukan karena nilai raporku hasil kebaikan hati guru - guruku, tak mungkin kiranya rata -rata akhirku mencapai 9,00. Posisiku sebagai peraih nilai terbaik UN SMP se-kota tanjungpinang malah kubanting di urutan 10. Saat itu otak malasku masih berkata,"ah yang penting masih masuk 10 besar, 1 kota lagi, udah hebat ."
Sungguh betapa sombongnya aku dengan kekalahanku pada masa itu. Tidakkah aku berfikir bahwa Allah sedang menegurku? Belum lagi posisiku sebagai 'ratu' yang selalu menduduki peringkat pertama tergeser menjadi urutan kedua,"nilai semesteran kamu jatuh Ki," itu yang dikatakan guru-guruku. Ingin nangis rasanya pada masa itu tapi pengumuman penerimaan mahasiswa undangan yang meletakkanku di salah satu jurusan terfaforit di Tanah Air dan peraturan penulisan rapor yang tidak menuliskan peringkat kelas membuatku tak begitu kecewa, malah melambungkan aku ke tingkat kesombongan yang lebih tinggi. Padahal hati kecilku menangis, bertanya tanya ada apakah gerangan ? Apakah Kiki kini tlah menjadi begitu bodoh hingga tak mampu menangkap pelajaran yang begitu mudah ? Matematika yang dulu jadi kebanggaan karena otakku memang hanya diisi logika malah ku balas hanya dengan nilai 9.00 di UN bahkan guruku sempat memberi nilai 85 di rapor, padahal di SMP dulu nilai 100 pun sempat bertandang di raporku. Begitupun dengan nilai fisikaku, pelajaran yang dulu membuatku melayang di angkasa menyusuri pulau Jawa dengan pesawat terbang menuju Kota pelabuhan, Surabaya, bertemu dengan para jenius negeri ini, bapak Jusuf kalla sebagai pembuka perhelatan terhebat para enstein tanah air, tarian pembukaan dengan dikoreograferi langsung oleh Didik nini towok, malam penutupan bertabur bintang yang dihadiri Dewi - Dewi dengan mini skirtnya, free dinner di taman hotel yang berhias lilin yang bertebaran di atas kolam renang, malah membuatku terjun bebas dan cukup puas hanya di nilai 8,5. Padahal teman - temanku yang tak pernah mengikuti pelatihan fisika yang terkenal berat dengan minimal 5 buku setebal 500 halaman berbahasa Inggris yang dilaksanakan dari pukul 7 pagi hingga 4 sore bahkan bisa mendapatkan nilai yang jauh lebih baik dari itu. "Aku capek, bosen belajar !" itu yang kukatakan pada teman - temanku demi mendengar kata - kata hiburan,"kiki yang gag belajar saja nilainya segitu, gimana kalau belajar?" Menghibur diri ? iya ! Demi menutup kemalasanku yang selama ini berkecimpung di kedua pundakku. Ya, selama kelas 3 SMA ini aku memang malas membuka buku.
Alasan aku trauma melihat buku adalah ketika aku melihat teman yang ku anggap anak yang amat pintar di kelasku membuka bukunya ketika ujian Biologi. Suatu mata pelajaran yang menurutku mendapat nilai 90 saja sulitnya bukan main, apalagi materi di kelas XII yakni tentang Metabolisme. Tapi kenapa nilainya bisa bagus - bagus ? Pertanyaanku terjawab ketika aku melihat dia membuka buku di kala ujian berlangsung. Ketika itu rolling bangku memaksaku untuk duduk pada posisi paling belakang sehingga aku bisa tahu apa yang dilakukan teman - temanku di depan. Masih kuingat setelah kejadian itu aku menangis sejadi-jadinya bahkan aku sampai ke ruang BK dan dihujani berbagai pertanyaan terkait tangisanku. Akhirnya kuceritakan semua. Bukan malah tenang, tapi itulah awal kemalasanku. Menurut hematku, ngapain aku belajar kalau mereka juga tak belajar ? Ngapain aku capek-capek kalau toh mereka yang tak capek saja nilainya bagus. Namun untungnya Allah masih menyelamatkanku dengan tidak memberiku izin untuk berfikir tentang mencontek sedikitpun dan akhirnya ya itulah nilaiku. Aku lupa dengan kata - kata ibuku bahwa rajin pangkal pandai, aku lupa pisau tajampun kalau tak pernah digunakan akan tumpul juga akhirnya, dan yah benar, aku tumpul. Hari ini aku membaca sebuah buku luar biasa berjudul Ranah 3 warna, seolah menyadarkan alam bawah sadarku yang sempat mati dari kerja keras. 'Melakukan lebih dari yang lain', kalimat itu diulang berkali kali oleh penulis dan terus mengaum di otakku. Membangkitkan ARASku melaluli neuron neuron yang berkelebat cepat menghantarkan listrik berdaya ribuan volt dan membuatku kembali kepada kesadaranku yang utuh mengaitkanku dengan kerja keras yang dulu sempat kulakukan ketika aku sedang berambisi terhadap sesuatu. INI YANG HILANG DARIKU ! Doing extra miles ! Berbuat lebih ! Ini yang selama 3 semester ini aku cari ke mana hilangnya semangat belajarku. Kemalasan membuatku berbuat yang biasa saja, yang penting lulus, IP di atas 3, padahal kiki kecil dengan diplomatis berkata, "aku ke sekolah bukan mau cari nilai, tapi cari ilmu. Kalau nilaiku bagus, berarti aku telah memahami ilmunya". Tapi yang kulakukan sekarang adalah belajar untuk mendapatkan nilai sebanyak - banyaknya. Bukan untuk mendapatkan ilmu sebanyak - banyaknya. Niatku sudah berubah, maka jalan yang ku daki pun akan berubah. Feel yang terasa akan berbeda dan efeknya perjuangan yang kulakukan akan biasa - biasa saja, karena aku tidak hidup untuk ilmu, tapi untuk nilai. Nilai yang absurd. Materi yang kuanggap tak mampu kukerjakan malah mendapat nilai akhir B. Tapi yang gampang malah jadi C. Itulah nilai, terlalu subjektif untuk mengukur kemampuan seseorang. Berbeda dengan ilmu yang menurut ibuku bisa membawaku keliling Indonesia bahkan keliling dunia. Untuk yang pertama sudah kubuktikan dengan tak kurang 8 kali perjalananku dibiayai pemerintah karena mewakili daerah dalam berbagai lomba dan sekarang aku sedang berusaha untuk membuktikan kata kata lanjutan beliau, keliling dunia.
Doing extra miles ! " jadilah dokter yang tak seperti rata - rata dokter di indonesia, bisanya berkata,'sakitnya apa ?' lha wong yang dokter dia kok nanya ke pasiennya sakitnya apa. Jadi dokter yang hebat ! Ibu didik kamu untuk jadi orang Hebat, bukan jadi pecundang yang kalah sebelum berperang !" di lain waktu ibu juga pernah berkata,"Ibu tak perduli nerapa nilai kamu, tak mendapat juara kelaspun ibu tak akan marah. Asalkan kamu punya ilmunya. Tapi kalau kamu memang malas dan tak tahu apa apa, angkut semua buku -bukumu ke belakang, ayo kita bakar sama-sama." betapa ciutnya mukaku kala itu, kiki kecil yang belum genap berusia 7 tahun kala itu. Bahkan doing extra miles sudah diajarkan ibuku jauh - jauh hari sejak aku terpilih sebagai perwakilan sekolah dalam salah satu perlombaan yang mengantarkanku terbang pertama kalinya melihat awan. 3 buku IPA kelas 4, 5, 6. " Selama liburan ini kamu selesaikan ketiga buku ini. Kerjakan semua latihannya. Kalau sudah selesai 1 bab biar ibu periksa, sebelum selesai jangan nonton TV." Tanpa basa basi aku menurut saja dan ketika hasilnya keluar benar-benar diluar dugaanku. Ya, berbuat lebih dari yang lain, itu yang harus ku kejar lagi, agar aku bisa menemukan aku yang dulu, yang selalu berbinar bila mendapat ilmu baru, bukan nilai bagus !
Ah malam ini rasanya aku kangen ibu..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar