Jumat, 14 Desember 2012

Happy Birthday Sahabat !

15 Desember 2012 ... 8 tahun lalu di kelas 6c yang super bandel.. Ada 3 orang kakak yang harus teruuus nungguin adeknya sebelum pulang. Soalnya rumahnya jauh. Lucunya adik adiknya pun berada pada tingkatan kelas yang sama, masih kelas 4 SD. Ntah karena gag ada teman lain yang senasib, jadi pasti nunggu bertiga. Mau hujan, mau panas, we don't care ! Karena gak mungkin buat aku dan Ray buat jalan kaki sejauh 4 dan 6 kilo meter meskipun Fiqri kalau gag di jemput juga bakal jalan kaki sampai puskesmas pancur. Lucunya, ketika pak Isnaini menjelaskan tentang pembentukan ASEAN sebagai suatu organisasi yang berlandaskan kesamaan nasib negara - negara bekas jajahan kita juga membuat suatu grup bernama FAR ( Fiqri, Ainurrizqi, Ray ) meskipun diantara kita bertiga dulu nggak ada yang pernah manggil nama pribadi malahan nama ayah masing masing dan karena nama ayahku dan Ray itu sama, panggilannya malah ditambah jantan dan betina ( hewan kalee:) ) Dulu buatku Fiqri itu seorang penghayal kronis ! Senengnya ngelamun hampir di semua tempat. Pengalaman yang paling gag bisa aku lupain waktu kita gotong royong buat piket kelas. Apalagi kalau piket mingguan yang ngebuat kita hrus ngepel teras sejagad teras kelas 6. Meskipun ada 6 orang yang tertulis sebagai petugas piket, tetap aja yang pulang terakhir aku dan Fiqri. Kadang dia ngangkatin meja pas aku nyapu, kadang dia request buat ngepel, jadi kerjanya terakhir. Sambil nungguin aku nyapu.. eh dia ngerakit tamiya .. Dasar Fiqri ! Tapi buatku dia keren ! Dia langganan jadi komandan upacara di kelasku, dia juga yang bimbing aku buat jadi komandan upacara pada upacara terakhir di SDku dulu. Ray, namanya pertamakali kudengar ketika aku bersilaturahmi ke rumah salah satu teman bapakku," Biar kayak artis bollywood" kata papanya ketika itu. Saat itu kami tidak sekelas jadi aku tak tahu siapa dia. Hingga kelas 6 kami dipertemukan. And ?? Be best friend ! buatku dia salah satu penghiburku ketika aku ngerasa gag ada yang bisa buat aku ketawa. Meskipun pernah dia buat aku nangis ketika sekongkol dengan Fiqri. Aku masih inget banget kalian berantem ga jelas trus aku ga di layan sama sekali. AKU KIRA BENERAN ! Eh ga tahunya boong ! SEBEEEL ! Sayangnya kita harus pisah ketika kelulusan tiba, Aku dan Fiqri nerusin di SMP negeri 1 Tanjungpinang, dan Ray di SMP negeri 2 Tanjungpinang. Sedihnya lagi waktu itu gag ada yang punya HP, Facebook juga belum ada kalaupun ada di rumah gag ada internet, so aku dan fiqri tak pernah bisa lagi berhubungan dengan Ray ! Di SMP, persahabatan aku dan Fiqri diberikan warna yang indah lewat 'koko' Saputra Noviansyah. Buatku dia bukan orang baru sama sekali. Aku pernah bersama dengannya sejak TK. Aku ingat banget waktu itu guru - guru sempat meragukan keislamannya .. hehe. Mereka mengira dia dari etnis tionghoa ! Buatku masa itu masa yang amaat indah. Tak mungkin aku lupa ketika kalian (fiqri n saputra-red) nungguin aku ketika ujian bahasa Inggris dengan mam tatik ! Meskipun hari jumat dan kalian harus solat jumat, kalian tetap nungguin aku pulang. Hampir setiap pulang sekolah dan waktu zuhur istirahat ke 2 kita yang dipisahkan kelas berkumpul untuk sekedar ejek ejekan atau traktir traktiran. Hmm.. Untukku Saputra itu, miracle ! Sejak dulu aku mengaguminya karena kemampuan bahasa Inggrisnya jauh melampaui aku. Pertama kali kenal kesanku buat dia, dia itu childish dan agag tertutup ( sangat ). But aku seneng banget bisa kenal teman sebaik dia ! Aku biasa memanggilnya Dedek, filosofinya bukan karena aku merasa lebih tua dari dia. tapi siengatku itu panggilan TKnya, dan saat itu aku lebih nyaman panggil dia dedek, aku nggak tahu apakah saat ini dia juga masih senang kuppanggil dedek ?| Pada tahun terakhirku di SMP 1 akhirnya aku diberi kesempatan untuk 1 kelas dengan dia di kelas 9 A. Masih jelas di bayanganku gimana malesnya dia di kelas itu. Kadang ga masuk, meskipun aku tahu dia ke mana ketika gag masuk. Tapi aku paling ga bisa terima ketika salah satu guru SMP 1 ngehina dia dan bilang dia ga cocok masuk kelas unggulan ! makanya aku langsung balik badan dan mencoba membantunya sebisaku. Sekedar bertanya,"tugas bahasa udah selesai belum ?" "Besok kulihat dulu tugasnya ya !" Maaf kalau saat itu mungkin Dedek merasa aku terlalu mengatur, tapi aku tak ingin dia direndahkan orang lain. Aku yakin dia pintar ! Hingga akhirnya dia lulus sebagai 10 besar terbaik se SMP 1, rasanya aku ingin berteriak bangga karena punya sahabat yang begitu hebat ! Di SMA juga ga kalah seru, Ray yang masih dengan slogan KBnya, " 2 lebih baik !" (peace Ray !) memilih SMA 2 sebagai SMAnya. N FAS (Fiqri Ainurrizqi Saputra) menjadi murid SMA negeri 1. Di sini banyak yang berkembang, Saputra yang ternyata punya bakat di Olimpiade komputer, Fiqri yang pertama kali pacaran dengan Sinta. Tahukah kalian ? Meskipun kita beda kelas aku selalu melihat perkembangan kalian, bertanya pada teman - teman dekat kalian yang baru. Walaupun jarang kontak dan ngobrol, aku selalu ingin tahu tentang kalian. Begitupun Ray, sulit rasanya untuuk mencari tahu seperti apa dia sekarang. Hingga akhirnya titik terang muncul ketika Riki ( adeknya Ray ) masuk SMA 1, anak rohis lagi. ARtinya dia satu organisasi denganku ! Mau tanya langsung ? Gengsi ! Dikira aku naksir abangnya lagi ntar ! Tapi akhirnya dapet juga alamat FBnya ! "Yes" Batinku berteriak senang ! Kini, Aku tengah menyelesaikan kuliahku di Fakultas kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang Fiqri di FE Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta Ray di Universitas Islam Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru Saputra di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, Jakarta Kita terpisah jarak, 2 tahun setengah lagi mungkin kalian sudah lulus kuliah, sedangkan aku masih harus coass.. Ketika aku selesai, maukah kalian mengabulkan keinginanku ? Aku ingin mengambil gambar kita berempat dengan baju wisuda masing masing. Ingin aku ceritakan pada anak anakku kelak tentang sahabat sahabatku yang hebat ! Cerita ini aku dedikasikan untuk ulang tahun kalian Saputra Noviansyah, 5 November 1993 Ray dhavendra, 9 Desember 1993 Fiqri Harry Priyatna, 15 Desember 1993 Semoga sukses sahabat - sahabatku, Semoga Allah selalu menunjukkan jalan yang lurus untuk masa depan kita TErimakasih telah mengisi hari hari indahku selama ini Your bestfriend, Ainurrizqi Intan Puspitasari

Jumat, 16 November 2012

No gains without pains.. Agree ??

Aku nyaris kehilangan semangatku selama 3 semester di Fakultas kedokteran Undip ketika aku melihat deret deret nilai tak membuatku puas memandangnya. Kritikan masa kecilku yang melihat nilai B dan C di KHS Oomku yang notabenenya adalah anak pintar kubahas sengit di otakku dan berkata, kalau itu aku pasti sudah kuisi henya dengan 1 huruf dari ke 5 huruf yang mungkin mengisi lembar nilai KHS, dan itu pasti A. Namun ternyata memperoleh nilai yang gemilang bukanlah hal yang mudah, semudah memikirkannya. Mungkin karena sejak dulu aku terbiasa menduduki peringkat pertama di kelas membuat aku berfikir kalau aku mungkin meraih itu semua dengan gampang, tak ingat bahwa dari masa SMA dulu pun aku sudah diingatkan melalui nilai UNku yang kalang kabut. Nilai yang kuharapkan bertabur angka 9 yang menggantung - gantung dan angka 10 malah berulah menjadi 2 butir telur yang disusun vertikal. Kalaulah bukan karena nilai raporku hasil kebaikan hati guru - guruku, tak mungkin kiranya rata -rata akhirku mencapai 9,00. Posisiku sebagai peraih nilai terbaik UN SMP se-kota tanjungpinang malah kubanting di urutan 10. Saat itu otak malasku masih berkata,"ah yang penting masih masuk 10 besar, 1 kota lagi, udah hebat ." Sungguh betapa sombongnya aku dengan kekalahanku pada masa itu. Tidakkah aku berfikir bahwa Allah sedang menegurku? Belum lagi posisiku sebagai 'ratu' yang selalu menduduki peringkat pertama tergeser menjadi urutan kedua,"nilai semesteran kamu jatuh Ki," itu yang dikatakan guru-guruku. Ingin nangis rasanya pada masa itu tapi pengumuman penerimaan mahasiswa undangan yang meletakkanku di salah satu jurusan terfaforit di Tanah Air dan peraturan penulisan rapor yang tidak menuliskan peringkat kelas membuatku tak begitu kecewa, malah melambungkan aku ke tingkat kesombongan yang lebih tinggi. Padahal hati kecilku menangis, bertanya tanya ada apakah gerangan ? Apakah Kiki kini tlah menjadi begitu bodoh hingga tak mampu menangkap pelajaran yang begitu mudah ? Matematika yang dulu jadi kebanggaan karena otakku memang hanya diisi logika malah ku balas hanya dengan nilai 9.00 di UN bahkan guruku sempat memberi nilai 85 di rapor, padahal di SMP dulu nilai 100 pun sempat bertandang di raporku. Begitupun dengan nilai fisikaku, pelajaran yang dulu membuatku melayang di angkasa menyusuri pulau Jawa dengan pesawat terbang menuju Kota pelabuhan, Surabaya, bertemu dengan para jenius negeri ini, bapak Jusuf kalla sebagai pembuka perhelatan terhebat para enstein tanah air, tarian pembukaan dengan dikoreograferi langsung oleh Didik nini towok, malam penutupan bertabur bintang yang dihadiri Dewi - Dewi dengan mini skirtnya, free dinner di taman hotel yang berhias lilin yang bertebaran di atas kolam renang, malah membuatku terjun bebas dan cukup puas hanya di nilai 8,5. Padahal teman - temanku yang tak pernah mengikuti pelatihan fisika yang terkenal berat dengan minimal 5 buku setebal 500 halaman berbahasa Inggris yang dilaksanakan dari pukul 7 pagi hingga 4 sore bahkan bisa mendapatkan nilai yang jauh lebih baik dari itu. "Aku capek, bosen belajar !" itu yang kukatakan pada teman - temanku demi mendengar kata - kata hiburan,"kiki yang gag belajar saja nilainya segitu, gimana kalau belajar?" Menghibur diri ? iya ! Demi menutup kemalasanku yang selama ini berkecimpung di kedua pundakku. Ya, selama kelas 3 SMA ini aku memang malas membuka buku. Alasan aku trauma melihat buku adalah ketika aku melihat teman yang ku anggap anak yang amat pintar di kelasku membuka bukunya ketika ujian Biologi. Suatu mata pelajaran yang menurutku mendapat nilai 90 saja sulitnya bukan main, apalagi materi di kelas XII yakni tentang Metabolisme. Tapi kenapa nilainya bisa bagus - bagus ? Pertanyaanku terjawab ketika aku melihat dia membuka buku di kala ujian berlangsung. Ketika itu rolling bangku memaksaku untuk duduk pada posisi paling belakang sehingga aku bisa tahu apa yang dilakukan teman - temanku di depan. Masih kuingat setelah kejadian itu aku menangis sejadi-jadinya bahkan aku sampai ke ruang BK dan dihujani berbagai pertanyaan terkait tangisanku. Akhirnya kuceritakan semua. Bukan malah tenang, tapi itulah awal kemalasanku. Menurut hematku, ngapain aku belajar kalau mereka juga tak belajar ? Ngapain aku capek-capek kalau toh mereka yang tak capek saja nilainya bagus. Namun untungnya Allah masih menyelamatkanku dengan tidak memberiku izin untuk berfikir tentang mencontek sedikitpun dan akhirnya ya itulah nilaiku. Aku lupa dengan kata - kata ibuku bahwa rajin pangkal pandai, aku lupa pisau tajampun kalau tak pernah digunakan akan tumpul juga akhirnya, dan yah benar, aku tumpul. Hari ini aku membaca sebuah buku luar biasa berjudul Ranah 3 warna, seolah menyadarkan alam bawah sadarku yang sempat mati dari kerja keras. 'Melakukan lebih dari yang lain', kalimat itu diulang berkali kali oleh penulis dan terus mengaum di otakku. Membangkitkan ARASku melaluli neuron neuron yang berkelebat cepat menghantarkan listrik berdaya ribuan volt dan membuatku kembali kepada kesadaranku yang utuh mengaitkanku dengan kerja keras yang dulu sempat kulakukan ketika aku sedang berambisi terhadap sesuatu. INI YANG HILANG DARIKU ! Doing extra miles ! Berbuat lebih ! Ini yang selama 3 semester ini aku cari ke mana hilangnya semangat belajarku. Kemalasan membuatku berbuat yang biasa saja, yang penting lulus, IP di atas 3, padahal kiki kecil dengan diplomatis berkata, "aku ke sekolah bukan mau cari nilai, tapi cari ilmu. Kalau nilaiku bagus, berarti aku telah memahami ilmunya". Tapi yang kulakukan sekarang adalah belajar untuk mendapatkan nilai sebanyak - banyaknya. Bukan untuk mendapatkan ilmu sebanyak - banyaknya. Niatku sudah berubah, maka jalan yang ku daki pun akan berubah. Feel yang terasa akan berbeda dan efeknya perjuangan yang kulakukan akan biasa - biasa saja, karena aku tidak hidup untuk ilmu, tapi untuk nilai. Nilai yang absurd. Materi yang kuanggap tak mampu kukerjakan malah mendapat nilai akhir B. Tapi yang gampang malah jadi C. Itulah nilai, terlalu subjektif untuk mengukur kemampuan seseorang. Berbeda dengan ilmu yang menurut ibuku bisa membawaku keliling Indonesia bahkan keliling dunia. Untuk yang pertama sudah kubuktikan dengan tak kurang 8 kali perjalananku dibiayai pemerintah karena mewakili daerah dalam berbagai lomba dan sekarang aku sedang berusaha untuk membuktikan kata kata lanjutan beliau, keliling dunia. Doing extra miles ! " jadilah dokter yang tak seperti rata - rata dokter di indonesia, bisanya berkata,'sakitnya apa ?' lha wong yang dokter dia kok nanya ke pasiennya sakitnya apa. Jadi dokter yang hebat ! Ibu didik kamu untuk jadi orang Hebat, bukan jadi pecundang yang kalah sebelum berperang !" di lain waktu ibu juga pernah berkata,"Ibu tak perduli nerapa nilai kamu, tak mendapat juara kelaspun ibu tak akan marah. Asalkan kamu punya ilmunya. Tapi kalau kamu memang malas dan tak tahu apa apa, angkut semua buku -bukumu ke belakang, ayo kita bakar sama-sama." betapa ciutnya mukaku kala itu, kiki kecil yang belum genap berusia 7 tahun kala itu. Bahkan doing extra miles sudah diajarkan ibuku jauh - jauh hari sejak aku terpilih sebagai perwakilan sekolah dalam salah satu perlombaan yang mengantarkanku terbang pertama kalinya melihat awan. 3 buku IPA kelas 4, 5, 6. " Selama liburan ini kamu selesaikan ketiga buku ini. Kerjakan semua latihannya. Kalau sudah selesai 1 bab biar ibu periksa, sebelum selesai jangan nonton TV." Tanpa basa basi aku menurut saja dan ketika hasilnya keluar benar-benar diluar dugaanku. Ya, berbuat lebih dari yang lain, itu yang harus ku kejar lagi, agar aku bisa menemukan aku yang dulu, yang selalu berbinar bila mendapat ilmu baru, bukan nilai bagus ! Ah malam ini rasanya aku kangen ibu..

Senin, 30 Juli 2012

Cinta Karena Allah

Iseng iseng pagi ini ku buat status di facebook ... statusku begini "HIngga saat ini aku masih bingung dengan kalimat "mencintai karena Allah" ! Mencintai seperti apakah yang disebut cinta karena Allah ?" Sebenarnya bukan iseng juga sih aku buat status yang seperti ini... Tapi sejujurnya aku memang bingung dengan kalimat "mencintai karena Allah". Selaku hambaNya, ingin rasanya melakukan hal tersebut tapi aku juga gag tahu gimana caranya .. hingga akhirnya salah satu kakak kelasku memberikan suatu jawaban yang sangat ingin ku share pada teman - teman semua .. NA:assalamu'alikum kiki kabarnya gimna? lagi bingung yaa Aku :Waalaikummussalam kak NA ! Alhamdulillah baik kak .. hehe iya ... NA : bingungnya di mana toh buuk ? Aku : belakangan ini sering baca novel yang bilang tentang itu .. semalam juga pas seminar bareng sama mba Oki setiana Dewi beliau juga menyebutkan tentang hal tersebut .. di bukunya juga iya .. katanya ia mencintai teman2nya karena Allah .... cinta pada ayah ibunya karena Allah .. katanya kalau cinta itu ditujukan pada Allah yang maha Besar maka ukhuwahnya juga akan kuat . aku :terus gimana caranya biar bisa mencintai seseorang karena Allah kak ? NA: hmmmm bingung juga ya tapi udah pernah dengar ttg ukhuwahnya kaum anshar n muhajirin kan? mungkin sederhananya begini, mencintai teman kita, orang tua, atau pun psangan karena mereka juga mencintai allah kiki berteman dengan si A karena A itu orang yang juga sedang belajar mencintai allah sebelumnya kiki coba cari definisi "mencintai allah" itu bagaimana karena kata cinta dalam bahasa arab banyak mahabbah Aku : Mencintai karena Allah .. Kapan kita bisa judge diri kita sudah bisa mencintai seseorang karena Allah kak ? NA: sebelumnya kak mau tanya, ini konteksnya ke lawan jenis atau dalam konteks ukhuwah? Aku : ukhuwah .. NA : #yang sama jenisnya Aku : Iya .... kalo yang lawan jenis .. episode berikutnya deh kak .. biar paham 1 per 1 NA : salah satunya ketika kita mencintai seseorang karna Allah #di luar lawan jenis, maka namanya akan selalu kita sisipkan dalam tiap doa kita tanpa sepengetahuan dia mendoakan yang terbaik buat dia, menolongnya lewat doa agar keslitannya dimudahkan Aku : tapi pas doa sering egois juga kak .. Misalnya pas ujian .. teman kita itu nilainya sering rendah .. berharap nilainya bagus .. tapiii takut juga kalah nilai ama dia .. Kalau itu sih mungkin egoisitas pribadi .. tapi kadang juga terbesit pemikiran yg kayak bgitu kak.. NA : hehehe berarti kita belum mencapai tingkatan itsar dalam ukhuwah itsar itu mendahulukan saudaranya seperti kisah dua sahabat yang saling membayarkan hutang saudaranya masing2 tanpa sepengetahuan eeh ujung2nya hutang keduanya terlunasi Aku : harusnya gimana kak ? NA : ketika kita berharap nilai kawan lebih rendah daripada kita, artinya masih ada segenap penyakit hati di diri kita kata salim a fillah ruh2 yang diakrabkan iman ruh itu, akan mendekat kalau nyaman. dan akan menjauh jika berselisih. trus, kalo kita bersedia mengingatkannya jk melenceng dgn konsekuensi apapun temen kak pernah baca cm agak lupa redaksinya lupa : jika saja musuh2 islam itu tahu tentang ukhuwah maka akan mereka rebut meski dengan pedang sekalipun Aku : kak .. kiki juga suka bingung .. seandainya ada sesuatu yang sebenarnya menurut kita tidak menyenangkan dari seseorang .. Kiki lebih sering diam dan tidak bicara karena takut dia kecewa .. atau bahkan mengalah .. Tapi terkadang kiki juga ngerasa bersalah karena nggak ngasih tahu dia kalau itu kurang baik ... NA :hmmm ketakutan itu salah satu muslihat syaitan dia membisiki hati2 kita #annas kak pernah baca, sesungguhnya jihad seseorang itu slah satunya adalah ketika dia berani mengatakan kebenaran di depan penguasa penguasa maksudnya raja pejabat negara dosen dll tentunya dengan cara yang baik Aku : gimana caranya biar orang tersebut tidak sakit hati kak ? NA : traktir makan, trus ngobrl2 di situ selipin deh apa yang pengen kita sampein Aku : Ow .. berarti ntar tinggal redaksinya ya kak yang harus diperbaiki ? NA : iya benaaar... lihat orangnya seperti apa oh ya, bikin surat juga boleh nana, teman ku tersyang... hehehe biasanya lebih menyentuh Hmmm ternyata dari FB bisa dapet ilmu juga ya ... NA adalah kakak mentorku .. InsyaAllah bermanfaat bagi yg lain...